Sesuai dengan jadwal, harusnya ada satu kontainer berukuran 20 feet yang memuat barang baru Misterdi bakalan dikirim ke kantor. Dari pagi hari jam 7.30, walau mata setengah melek, aku udah telepon orang dari pengiriman barang buat memastikan jam berapa kontainernya diantar. “Pagi ini mbak, nanti pasti diantar…”, sahut si penerima telepon.
Aku sedikit heran, kenapa sih susah banget ngomong dengan jelas jam berapanya, pagi itu kan panjang ya? jam 6 juga pagi, jam 10 juga pagi, mungkin aja buat sebagian orang jam 12 pun masih pagi. Jadi “pagi” kan relatif. Setelah aku telpon yang kedua kali, akhirnya aku tanya dengan jelas jamnya. Si pengirim bilang, “Ya, jam 9 berangkat dari sini mbak”.
Nah kan enak, kalo gitu aku bisa langsung minta tim IT siap-siap dengan sedikit kepastian.
Jam 0915 aku dan tim sudah nongkrong manis di tempat parkir Turi nungguin kontainer datang. Letak perusahaan shipment kira-kira hanya 20 menit jauhnya kalau naik mobil. Tapi, hingga waktu menunjukkan 0945 aku dan tim masih bengong aja di tempat parkir, mana nih kok gak datang-datang? Akhirnya aku telpon lagi si empunya gawe, dan jawabannya, “Oh udah berangkat, 10 menit yang lalu”. Aku tersenyum simpul, mau marah, tapi kan lagi puasa. Janji tinggal janji deh.
Sekitar jam 1000, kontainer yang ditunggu akhirnya datang juga. Trailer yang bawa kontainer langsung parkir di tempat yang disediakan, dan timku langsung tanya ke sopirnya, “Forklift dan trolinya mana Pak? Masih dalam perjalanan?”. Karena letak kantorku yang beda 2 lantai dari tempat parkir, untuk bongkar kontainer butuh transportasi tambahan. Tidak mungkin kontainer langsung turun ke bawah. Liat aja nih gedenya kontainer segimana:

Si Kontainer
Si sopir yang ditanya tadi mengaku tidak tahu menahu tentang pengiriman forklift dan lori (truk kecil) karena beda bagian dengan pengiriman kontainer. Akhirnya kamipun berasumsi, forkliftnya pasti butuh waktu agak lama untuk sampai, karena memang gak bisa ngebut. Semoga 10 menit lagi forklift dan truknya sampai. Dengan bersemangat, timku langsung membuka segel kontainer, untuk memeriksa isinya. Wah, rasanya sumringah banget, melihat kotak-kotak besar itu, dan diantaranya ada sebuah kotak untukku. Kayanya ini yang paling bikin aku sumringah. Sebelum dibongkar mejeng dulu deh sama Mang Ohle dan Indra.

Mejeng di Dalam Kontainer
Setelah beberapa lama kamipun mulai heran, waktu udah jam 1030, tapi forklift yang ditunggu gak datang-datang. Pintu kontainer sudah terlanjur dibuka, kamipun gak bisa ninggalin kontainer tanpa ditunggu. Akhirnya aku angkat telepon lagi untuk cek ke perusahaan shipment, dan ternyata, dia merasa tidak ada permintaan pengiriman forklift ataupun troli. Lah bagaimana bisa, aku sudah kirim email dari kamis lalu tentang permintaan ini ke salah satu kontak personnya, yang katanya bagian marketing. Artinya permintaan ini tidak pernah dikoordinasikan ke pihak pengiriman barang. Glek.
Waktu terus berjalan, dan matahari pun makin terik, kontainer yang isinya barang-barang elektronik itu kalo gak segera dibongkar bisa bahaya. Sampai jam 1230 troli dan forklift tidak datang juga akhirnya kami bongkar manual barang-barang di dalam kontainer itu. Ya, di dalamnya, jadi kami masuk ke dalam kontainer dan membuka palet-palet, yang ditotal ada 9 palet besar. Jadi membayangkan perasaan para imigran gelap yang bersembunyi di dalam kontainer, panas banget begini.

Bongkar Kontainer
Untungnya di studio sedang ada kontraktor yang merenovasi ruang teater dan mereka membawa lori. Untuk mengangkut barang-barang ke studio kami akhirnya pinjam lori punya kontraktor itu.
Jam 1315, lori dari perusahaan shipment baru datang, mereka menunggu sopirnya selesai makan siang baru berangkat. Aku cuma mengangguk-angguk (*berusaha mengerti) sewaktu mendengar alasan ini.
Proses pengangkutan ke dalam studio berjalan lancar, sekitar jam 1430, semua barang sudah masuk ke dalam studio. Sementara di susun di dalem studio 3, segini nih banyaknya:

Barang-barang di Studio
Peluh membanjiri semua orang, sebagian besar dari mereka lagi puasa, termasuk aku. Rasa haus meraja, dan kamipun langsung ngadem di dalam studio melanjutkan pekerjaan masing-masing sambil mencoba bertahan sampai waktunya buka.
Dan Alhamdulillah aku menang, walaupun gak yakin pahalanya utuh atau enggak, lha wong dari pagi udah memendam amarah…