It’s Been a While

Yup, I know, this title was meant to curse myself being so lazy in writing lately.

So many things happening, but the hype now is about an epidemic I’ve got from Faby. Yea, Faby, the girl sharing an office with me.

When I say “epidemic”, it’s just a word we always add at the end of every sentences in our conversation: cyiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin
(say it really loud with high pitched tone)

At first we were laughing out loud for those who are using this word in their conversation, annoying! But at the end, we just enjoy it and make fun of saying it to every girls in the office, and I think they started to get influenced by this epidemic too.

Advertisements

Pajak Kendaraan Bermotor di Batam

Ini adalah pengalaman pribadiku ngurus pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor Tahunan di Batam. Tempatnya di SAMSAT Batam, gedung yang ada di kiri jalan kalau mau ke arah Mega Mall dari perempatan Kurnia Jaya (apa sih namanya, gak tau deh). Pokoknya deket sama asrama haji, sebelum Bank Indonesia. Gedung SAMSAT ada 2, tempat pengurusan BPKB ada di gedung yang sebelah kanan.

Yang diperlukan:

  1. BPKB kendaraan bermotor (kalo belinya kredit, minta copynya dari bank atau kreditur)
  2. STNK Asli
  3. KTP sesuai nama di STNK, kalo misalnya gak ada KTPnya, harus ada surat kuasa dari pemilik ke orang yang ngurusin pembayaran pajak.

Prosesnya:

  1. Meja informasi: ambil nomor antrian, disini pasti udah diminta nunjukin dokumen2 yang diperlukan tapi gak diserahkan. Duduk di ruang tunggu, nanti ada petugas yang manggil nomor anda untuk ke loket mana,
  2. Pendaftaran, serahkan smua dokumen yang dibawa, ohya STNK dikeluarkan dari bungkus plastiknya. Setelah pendaftaran akan dapat nomor baru untuk pembayaran. Duduk lagi deh, nunggu dipanggil.
  3. Pembayaran pajak di loket sebelahnya setelah dipanggil dengan nomor baru. Trus duduk lagi untuk nunggu proses selanjutnya.
  4. Pengambilan STNK yang udah dicap dan bukti pembayaran pajak.

Semua proses gak lebih dari 1 jam kok, tergantung antrian pastinya ya. Saranku sih dateng aja pagi2, jam 8 juga udah buka, jadi belum terlalu rame.

Selamat membayar pajak.

SIM Ku Mau Mati

Nah, satu lagi kepusinganku di awal tahun ini.. Yak SIM yang mau mati dalam hitungan hari aja.

Belum ada pengalaman perpanjang SIM di Batam bikin aku sedikit kelimpungan dan akhirnya minta tolong HR di kantor untuk cari informasi, eh ternyata biayanya 600 ribu rupiah. Wah agak gondok juga karena kalau di Jogja kita bisa perpanjang SIM di Mal Ambarukmo Plaza, tunggu sekitar 3 jam, SIM sudah bisa diambil dan biayanya 80 ribu rupiah saja.

Siapa ada pengalaman perpanjang SIM di Batam? Tolong…

Hampir Aja Aku Ketipu

Cerita ini bermula saat suami keterima kerja di tempat yang baru. Tempat yang baru ini cuma kasi waktu 1 bulan sejak dinyatakan keterima untuk siap-siap pindahan. Hasilnya, aku dan suami sempat panik mencari tempat tinggal baru. Walaupun cuman berjarak 45 menit naek ferry, tempat kerja yang baru ini udah berstatus beda negara sama Batam, negara Singa, Singapura. Kami kan sama-sama “blank” kalo soal cari tempat tinggal disitu, biasanya cuman stay 1-2 hari aja, itupun keperluan kantor jadi gak bingung mikirin akomodasi.

Langkah pertama, coba kontak beberapa teman yang sudah ada di sana selama beberapa waktu. Setelah tanya sana sini, ternyata kebanyakan dari mereka dapet akomodasi melalui Agen. Budget yang aku punya cuman sanggup cari type HDB yang 2 kamar dan satu kamar mandi, itupun rencananya sharing sama orang. Jadi sebenernya cuma sanggup sewa satu kamar sih. Akhirnya aku kontak satu agen dan dia ajak aku untuk lihat 3 lokasi apartemen, pertama di daerah Chinatown, dan 2 yang lain di daerah Tiong Bahru. Dari 3 tempat yang ditunjukin aku masih gak sreg. Habis rasanya bayar mahal banget kok dapetnya kurang sepadan.

Biaya agen itu lumayan juga lho, kalau kontrak apartemennya selama satu tahun kita harus bayar “fee” sebesar setengah harga sewa perbulan, kalau 2 tahun kontrak berarti harga sewa satu bulan. Padahal selain biaya agen rata-rata apartemen di sana minta deposit sebesar satu bulan sewa, ada yang minta sampe dua bulan. Jadi kalau dihitung kira-kira segini:

  • satu bulan sewa (1 kamar tidur utama): 700 (rata-rata, tergantung daerahnya)
  • deposit (1 bulan sewa): 700
  • komisi agen (misal kontrak setahun): 350

JADI TOTAL: 1850 (SGD), kalo di rupiahin ya sekitar 12,5 Juta Rupiah. Deng deng…

Sempet shock juga aku waktu pertama kali ngitung, mahal bener yah? Itu kan modal awal, karena belum gajian dari kantor, lha wong mulai kerja aja belum kok ngarep dapet gaji. Setelah tahu kisaran harga yang harus aku perjuangkan, aku mulai cari alternatif cari apartemen lewat online. Beberapa situs yang aku akses antara lain:

Setelah sekitar seminggu browsing sana sini tiba-tiba aku dapet email dari seseorang bernama Jane Millar. Isi emailnya tentang ketertarikan dia untuk jadi “flatmate” di apartemen yang sudah dia sewa, dia juga lampirkan foto-foto ruangan dalam apartemen sekaligus kamarnya. Wah boleh juga nih pikirku, aku langsung share info sama suami, dia juga setuju kalo offernya cukup menarik. Kalau begini kita gak perlu mikir bayar agen, daerahnya cuman berjarak 3 MRT station dari tempat kerja suami, jarak HDB ke MRT cuman 5 menit jalan kaki, harganya pun sedikit di bawah rata-rata.

Aku balaslah email itu dengan perkenalan diri, dan mulai menanyakan lebih detail mengenai info lokasi dan fasilitasnya. Kebetulan hari itu aku ada meeting di Singapura aku pikir bisa sekalian ketemu sama dia. Tapi ternyata dia balas email itu dan bilang kalau dia sedang di luar negeri untuk “bussiness trip”. Yah, sayang sekali pikirku, padahal pengen banget bisa liat lokasinya. Saking penasarannya aku tetep coba cari ke lokasi yang Jane sebut di email, yah mumpung lagi di Singapura, sekalian aja. Ternyata benar, lokasinya lumayan, sarana umumnya banyak dan lengkap. Malam itu langsung aku email Jane dan bilang tertarik sekali dengan offernya. Tapi dia lagi di luar negeri terus gimana dong langkah selanjutnya?

Hari selanjutnya aku masih menunggu balasan email dari Jane, aku dapat email lain yang menawarkan jadi flatmate juga. Namanya Romain Jean, alamat apartemennya agak dekat dengan kantorku di Singapura. Aku pikir boleh juga lokasinya, tapi apesnya di Romain ini ternyata juga lagi di luar negeri. Ah, kok sial banget sih. Tetep penasaran, aku dan suami malam itu coba survey ke apartemen itu. Alamat yang dikasih cukup jelas, gampang banget cari daerahnya. Setelah ketemu aku dan suami langsung masuk ke gedungnya. Sempat khawatir juga sih tadinya karena Romain bilang hati-hati dengan security di situ, dan pas masuk lantai pertama langsung ketemu sama security guardnya, tapi ternyata mereka cuek bebek tuh. Ya sudah, aku langsung melenggang masuk lift dan menekan angka 2, lantai yang disebut si empunya apartemen di email.

Sesampai di lantai 2, aku dan suami sempat terbengong. Sepi sekali disitu, dan semua ruangan serupa toko-toko yang sudah tutup, memang saat itu sudah jam 9.00 PM waktu Singapura. Aku cek lagi emailnya, alamatnya bener gak, lantainya bener gak, ah bener kok semuanya. Setelah beberapa saat, aku pikir seharusnya tanya aja ke security guardnya, mereka kayaknya baik kok. Aku dan suami langsung kembali ke lantai satu ke tempat 2 security guard yang sedang jaga. Ternyata, menurut informasi mereka, di sini memang bangunan toko dan kantor sampai lantai 15. Apartemen tempat tinggal mulai lantai 16 ke atas. Hah?

Ada satu pesan dari security guard itu yang bikin aku dan suami tersadar, “If you want to rent an apartment, never pay before you see inside the apartment and meet the owner in person!”

Oke, apakah ini sebuah peringatan? Aku coba telusuri 2 tawaran flatmate yang aku baru terima, ternyata mereka ada kemiripan:

  1. Menawarkan untuk share apartemen karena mereka sering bepergian
  2. Sedang tidak ada di tempat ketika proses negosiasi, sama-sama sedang di UK!
  3. Harga sewa yang ditawarkan sedikit di bawah rata-rata
  4. Akan mengirim kunci apartemen melalui kurir setelah menerima payment bulan pertama plus deposit
  5. Meminta detail informasi pribadi untuk pembuatan kontrak sewa rumah
  6. Payment melalui transfer ke Western Union

Wah kok mulai berasa aneh nih. Mengikuti instingku, aku ketik nama Jane Millar di paman Google, dan yang keluar adalah:

Do not send any money to Jane Louise Millar, this is a scam. This person using stolen ID and the Residence offered is non existent. If you are looking for a place to rent ALWAYS view the property first and do not send money through Western Union. Unfortunately there are many of these scams going around at the moment

OKE.

Aku tersadar, terhenyak, dan hampir gak percaya. Aku hampir saja ketipu. Untung aku belum sempat kirim info personal ke orang itu, apalagi transfer duitnya. Setelah aku search di Google lebih banyak, aku baru tahu kalo ternyata scammer sewa menyewa apartemen memang bertebaran, gak hanya di Singapura, tapi juga di banyak kota besar di seluruh dunia. Bahkan si Jane Millar ini juga pasang target di Paris dan Melbourne dan biasanya adalah orang yang akan pindah ke negara baru dan membutuhkan akomodasi dengan segera (jadi kalo terburu-buru kan gampang ngebujuknya).

OALAH, jaman sekarang orang mau cari duit ya macem-macem caranya ya. Next post aku mau tulis tips dan trik cari apartemen di Singapura deh siapa tau membantu.

Shopaholic?

Baru aja pulang dari Bandung semalam jam 8 PM.. 3 hari disana hanya 1 item baru yang kebeli: platemats seharga 50 rb karena diskon 50%. Jadi aku bukan shopaholic lah..

Hanya saja, saat ini kepikiran sepasang sepatu warna item yang di diskon 40%. Waktu itu sampe cobain 2 kali, berhasil menahan diri gak dibeli. Sekarang, setibanya di Batam memori sepatu itu gak juga sirna dari otakku. Beberapa alasan yang membenarkan pemikiran untuk “beli ajah tu sepatu” adalah:

1. Sepatu itemku kan udah mulai rusak *padahal masih bisa dipake*
2. Kan baru aja gajian *lalu??*
3. Mumpung diskon looooh, kapan lagi bisa beli sepatunya segitu muraaaaah? *klo belinya sekarang kan kena ongkos kirim, jadi nyesel, kenapa waktu liat pertama gak langsung dibeli aja siiiih…*
4. Suami udah mendukung 99% buat beli.. *karena aku ngrengek2 mulu gak bisa lupain tu sepatu*

Oh Tuhan.. maafkan aku, akhirnya ku SMS sepupuku di Bandung untuk beli sepatunya dan kirim ke Batam segera.

Sekarang menanti kabar dari Bandung kalo sepatunya udah dibeli dan dikirim. Nanti kalo udah sampe aku mau upload fotonya.. hahaha

Jadi aku tetep bukan shopaholic kan? Cuma shoeshopaholic saja.

Hari Mudik

Yeah, hari ini tiba juga, saatnya mudik…

Jam 12 ini berangkat ke SG naek ferry, Nongsa-Tanah Merah, flightnya dari SG ke Jakarta jam 5 sore soalnya. Jadwal ferrynya tanggung banget sih, gak ada yang jam 1 siang. Habis jam 12 trus adanya jam 2.20 siang. Kalo ambil yang yang jam 2.20 itu sampe Tanah Merah aja udah jam 4. Belum naek taksi ke Changinya, daripada olahraga jantung jadi mending berangkat agak awal deh.

Selamat Lebaran ya semua, mohon maafkan kesalahan ku, walaupun itu disengaja.

Semoga semuanya bisa liburan dengan indah, begitu pula aku. Wah lebaran pertama bersama suami nih!

Malam yang Kutunggu

Akhirnya malam itu hampir sampai.

Malam pemutaran perdana film animasi Meraih Mimpi. Penasaran, apa kata orang nanti setelah nonton filmnya ya? Semoga responnya bagus, dan bisa memacu semangat artist-artist animasi Indonesia untuk terus berkarya.